Bodog Sports Account Website_Online betting company_Baccarat Guide_Betting Handicap_Sports betting

  • 时间:
  • 浏览:0

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Bbet365 bet365 alternate URLalternate bet365 alternate URLuRLukabet365 alternate URLnkabet365 alternate URLh manusia memang harus selalu belajar dan berkembang tanpa mengenal usia? Lantas wajarkah jika kita menjadikan kenyamanan sebagai alasan untuk mempertahankan toxic relationship. Alangkah sayangnya jika melangsungkan pernikahan yang didasari dengan toxic relationship hanya karena mendengarkan omongan orang sekitar, menikahlah saat sudah siap.

Tak jarang orang yang mendominasi akan memposisikan dirinya sebagai penyelamat sehingga pasangannya akan merasa sangat bergantung dan berhutang budi padanya. Mereka yang merasa tak berdaya tentu akan menerima dan tetap mempertahankan toxic relationship.

Barangkali sudah banyak yang tahu, toxic relationship merujuk pada sebuah hubungan yang ditandai dengan perilaku “beracun” yang dapat merusak fisik maupun emosional bagi diri sendiri dan pasangan. Bahkan banyak toxic relationship yang terlihat harmonis. Namun hubungan ini tentu akan membawa berbagai tekanan yang mengakibatkan banyak dampak negatif di kehidupan sosial. Mari kita simak yuk beberapa hal yang menjadi penyebab sulitnya meninggalkan toxic relationship.

Namun apa yang harus kalian lakukan jika terjebak di toxic relationship? Hal ini menjadikan dirimu bimbang jika harus mengakhiri hubunganmu. Siapasih yang tidak bersedih jika harus berpisah dengan orang tersayang termasuk keluarga pasanganmu? Belum lagi berbagai pertanyaan dan nasehat yang muncul dari pihak keluarga pasangan.

Pemikiran ini yang turut berkontribusi dalam memotivasi kita mempertahankan toxic relationship. Sudahkah kamu mempertimbangkan hal ini untuk tetap melanjutkan hubunganmu?

Namun yang perlu diingat adalah kamu akan bekerja sama seumur hidup dengan pasanganmu. Yakinkah kamu jika hubungan keluarga yang sudah terjalin dengan baik dijadikan dasar untuk mempertahankan toxic relationship?

Hubungan yang terjalin cukup lama menjadi alasan kuat untuk tetap  berada di toxic relationship. Tak dipungkiri bahwa sebagian besar orang akan cenderung lebih banyak mengetahui sisi baik dan buruk pasangan yang telah bersama sekian tahun.

Banyak yang terjebak di zona nyaman sehingga menimbulkan pemikiran “Belum tentu ada orang lain yang bisa menerima segala kekuranganku” atau “Sudah lelah jika harus memulai dari awal lagi bersama orang baru”.

Menjalin sebuah hubungan ke arah yang lebih serius yaitu salah satu tahapannya dengan mengenalkan pasangan pada keluarga begitu juga sebaliknya. Tak jarang kamu sering menghabiskan banyak waktu dengan orang tua pasanganmu dan melibatkan diri dalam berbagai  momen penting dengan keluarga pasanganmu. Sebagian orang menjadikan hal ini sebagai pencapaian dan kebanggaan karena telah berhasil melaluinya dengan sangat baik.

Cinta menjadi salah satu alasan terbesar orang mempertahankan hubungan. Tidak salah menjadikan cinta sebagai fondasi terkuat dalam mempertahankan hubungan, namun bukankah mencintai diri sendiri merupakan cara terbaik sebelum mencintai orang lain?

Setiap acara keluarga banyak pertanyaan yang menghantui dirimu tentang kapan target menikah. Usia yang tak lagi muda serta stigma sosial untuk segera memiliki pasangan hidup menjadi alasan terkuat untuk mempertahankan toxic relationship karena berbagai tekanan sosial dari lingkungan. Di tahapan ini banyak orang merasa untuk malas jika harus mengakhiri hubungan dan memulai kembali dengan orang yang baru.

Selama ini kita mengetahui bahwa cinta menjadi salah satu fondasi dalam menjalin suatu hubungan. Segala hal dan upaya dilakukan untuk menyenangkan pasangan kita. Terkadang rasa cinta yang menggebu sulit untuk dikontrol. Tak jarang cinta membuat seseorang tak mampu menyeimbangkan antara hati dan pikiran, bahkan hal inilah yang membuatmu memberikan toleransi bagi pasanganmu untuk melakukan kesalahan yang melanggar batasan atau prinsip yang kamu miliki.

Maka perlu disadari bahwa memiliki pasangan bukan berarti kamu harus bergantung sepenuhnya pada pasangan dan jika kau berada dihubungan toxic relationship seperti ini sebaiknya persiapkan diri lebih matang. Menikah bukan tujuan akhir namun permulaan satu tahap baru kehidupan.

Semua orang ingin mendapatkan cinta sejati dan hidup bahagia bersama pasangan layaknya cerita di negeri dongeng. Menemukan pasangan hidup yang tepat bukanlah perkara mudah. Segala usaha dilakukan untuk mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kriteria. Namun terkadang hal yang tak menyenangkan juga terjadi di dalam setiap hubungan. Puncaknya kamu mulai menyadari bahwa kamu sedang terjebak dalam toxic relationship.

Bila ada ketimpangan kuasa pada sebuah hubungan maka akan cenderung muncul perilaku yang buruk ataupun abusive. Kemandirian menjadi hal yang sangat penting. Pasangan yang mendominasi biasanya lebih memiliki kuasa secara status sosial atau finansial sehingga membuat seseorang kehilangan daya atau powerless.

“Pacaran udah lama banget ibarat kalo nyicil kredit motor udah lunas”, perkataan teman-teman kepadamu.